Saturday, March 16, 2019

Kebodohanku: Rela Melakukan Threesome Demi Cinta

Kebodohanku: Rela Melakukan Threesome Demi Cinta - Kamu bisa belajar dari kesalahanmu sendiri melalui keputusan buruk yang telah kamu perbuat. Seperti halnya orang yang sering melakukan kesalahan atau sering kali cemas bila kesalahannya diketahui orang lain, justru hal tersebut malah berdampak bagus untukmu.

Aku mengatakan berdampak bagus disini bukan berarti aku menghilangkan realita buruk yang sebenarnya ada. Justru aku menganggap bahwa keputusan buruk itu terkadang dapat.. ehm.. membunuhmu lebih dari sekali..



Tetapi bila engkau lewati masa-masa itu, hal buruk justru dapat membuatmu bertumbuh.

Bagi seorang wanita yang telah mengalami banyak kesedihan dalam hidupnya, terlihat aneh sekali bahwa aku menceritakan kisah hidupku seolah tidak mengalami penyesalan sama sekali. Yang sebenarnya terjadi adalah, aku belajar menerima kesalahanku dan telah memaafkan diriku.

Jujur saja, sensasi seks bertiga (threesome) bukanlah hal yang buruk. Hanya saja terasa canggung. Aku pernah melakukan threesome dengan orang yang salah, serta dengan tujuan yang salah.

Hamil di Luar Nikah

Pada tahun 2014, aku tengah mengandung anak dari tunanganku. Setelah mengetahui kondisiku, ia malah mengakhiri hubungan kita berdua. Walau bayi yang berada di rahim ini adalah miliknya,  ia tetap mengusirku dari apartemen dan sekarang malahan ia berpasangan lagi dengan perempuan lain.

Dia menyakiti perasaanku dan juga memperlakukanku seperti sampah. Dan aku membiarkan diriku diperlakukan seperti itu! Aku mencintainya dan tetap ini berhubungan dengannya walaupun diperlakukan seenaknya.

Selama masa kehamilanku ia mengajakku untuk melakukan hal yang sebenarnya kusesali.

Mengetahui bahwa aku masih memliki perasaan dengannya. Ia berpikiran untuk mengajakku untuk melakukan threesome. Ia memaksaku untuk setuju dengannya. Dengan berat hati juga aku melakukan keinginannya.

Aku benci fakta bahwa aku tidak tahu bagaimana move-on dari pria ini. Pria yang memperlakukanku seperti sampah. Aku tak bisa lepas darinya. Tak bisa jauh dari dirinya.

Namun suatu hari, aku membuat keputusan yang tegas dalam hidupku. Aku menemui pria lain dalam hidupku agar dapat move on darinya.

Melalui Facebook, aku berkenalan dengan Dylan. Kita saling bertukar nomor dan sering video call. Aku menemukan kecocokkan dengan pria baru ini.

Dia seorang duda dengan seorang anak perempuan yang hak asuhnya ditangan mantan istrinya. Dia cerdas, tampan dan sedikit kutu buku. Namun ketertarikanku kepadanya tidak lebih dari agar diriku bisa move-on dari mantanku.

Namun ternyata, Dylan adalah pria brengsek. Setiap kali kita memiliki sebuah rencana, baik itu kencan ataupun menghadiri acara/tempat tertentu, pada akhirnya ia sering kali membatalkan janji tersebut.

Faktanya, ia bahkan tak peduli bahwa aku adalah single mother yang membutuhkan pendamping serta sosok ayah bagi anakku. Namun, aku tetap mempertahankan hubunganku dengan Dylan, dengan tujuan agar membuktikan bahwa aku bisa move-on dari mantan tunanganku dan bahkan sekarang aku telah menikah dengan Dylan.

Fantasi Seksual yang Aneh

Bercerita mengenai hubunganku dengan Dylan diawal, terasa sedikit aneh dan canggung. Setiap kali melakukan pembicaraan baik chatting ataupun secara langsung, selalu mengarah ke topik menyusui. ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengenai hal tersebut. dominoqq

Aku pribadi juga tidak merasa tabu untuk membahas hal tersebut kepadanya. Namun terasa seperti ketertarikannya terhadapku hanya karena aku ibu muda yang aktif menyusui. Mungkin dia memiliki kelainan seksual yang tidak kupahami.

Suatu hari, Dylan memperkenalkanku dengan teman baiknya, Jenny. Sejak berkenalan dengan Jenny, kita bertiga selalu jalan-jalan bersama. Jenny bahkan sering makan malam bersama. Semakin lama aku semakin akrab dengan jenny. Sampai saat ketika, Dylan mengajakku untuk melakukan threesome dengan Jenny. Aku langsung menyetujuinya secara langsung.

Berbeda dengan pengalaman threesome dengan mantanku sebelumnya, aku melakukan aktivitas seksual yang intim dengan Jenny. Aku bahkan menciumnya walau terasa janggal, namun aku tetap menikmatinya.

Satu-satunya hal yang menggangguku saat itu adalah aku merasa seperti orang luar (outsider) bagi mereka. Dari candaan dan percakapan mereka, sepertinya mereka berdua sudah terbiasa melakukam hubungan badan bersama. Tak heran Dylan sering sekali membatalkan janji denganku saat hari H.

Untuk pertama kalinya, aku merasa sakit hati tapi tetap kuat. Sejak saat itu pun, kita sering melakukannya bersama.

Sebenarnya terlihat bahwa Jenny ingin memiliki status pernikahan yang sah dengan Dylan. Melihat hal yang Jenny lakukan, mengingatkanku akan diriku yang dulu. Tapi aku juga tidak peduli lagi. Aku hanya menikmati kehidupan seksualku seperti biasanya.

Ingat dengan kalimatku diawal cerita ini? Kamu bisa belajar dari kesalahanmu sendiri melalui keputusan buruk yang telah kamu perbuat? Ya, ini adalah salah satu pembelajaran yang kudapat dari berbagai keputusan buruk yang kulakukan.

Bila sebelumnya, aku bersedia melakukan threesome karena mengemis-ngemis cinta dengan mantan tunanganku. Kali ini aku melakukannya sebagai kebutuhan biologis saja tanpa ikatan emosional.

Aku menceritakan kisahku ini, bukan untuk menganjurkan threesome kepada khalayak ramai. Pada kebudayaan kita, tentu saja threesome ini merupakan hal tabu.

Pada umumnya, perempuan rela memberikan segalanya demi cinta. Termasuk membiarkan harga dirinya terinjak-injak.

Percayalah, yang kalian (perempuan) lakukan sebenarnya bukanlah pengorbanan, tapi kebodohan.

No comments:

Post a Comment